FOLDABLE CONTAINER-Inovasi Untuk Efisiensi Pelabuhan Peti Kemas

July 6, 2015 at 6:28 am Leave a comment

Hampir 90% dari komoditas perdagangan berjenis non bulk material menggunakan petikemas (Pettinger, 2013). Perkembangan penggunaan petikemas saat ini semakin tinggi, semenjak diperkenalkannya sistem petikemas untuk pengiriman komoditas perdagangan pada tahun 1956 oleh Malcom Mc Lean dan engineer Keith Tantlinger (BBC, 2010), tercatat dari 50 pelabuhan besar dunia pada tahun 2013 total global container fleet mencapai 423,08 juta TEU’s pertahun dengan pelabuhan terbesarnya adalah Shanghai China (World Shipping Council, 2015). Adapun pada tahun 2013 beberapa pelabuhan di Indonesia baru mampu melayani 6,59 juta TEU’s untuk pelabuhan Tanjung Priok dan 3,02 juta TEU’s untuk pelabuhan Tanjung Perak. Menurut Richard A butcher (2010), penggunaan petikemas dalam tiap kawasan berkembang secara dinamis, China sebagai emerging market telah mendorong pertumbuhan arus petikemas dari kawasan Asia ke 2 kawasan besar lainnya yaitu Amerika Utara dan Eropa mulai tahun 2000 seperti yang terlihat pada gambar 1 dibawah ini.

Global Trade

Gambar 1. Global Container Flow 2000-2007 (Richard A Butcher, 2010)

Sebagai moda transportasi dengan biaya angkutan, penghasil karbon dan konsumsi bahan bakar yang lebih kecil dibandingkan moda angkutan lain pada jarak tempuh jauh (Marinov, 2012; Environmental and Social Impact of Marine Transport in The Great Lakes-St Lawrence, 2013), transportasi laut merupakan pilihan favorit untuk mendukung perdagangan global. Menurut Drewry dalam tilgroup (2012), perkembangan petikemas sangat berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi dan Regional/National Gross Domestic Product, dengan pertumbuhan rata-rata GDP 3% (tahun 1991- 2011) telah meningkatkan rata-rata arus petikemas sebesar 8%. Analisa dari MAERSK (2013) dan World Bank menyatakan perbaikan konektivitas pengangkutan petikemas di China sebesar 54 % telah berpengaruh kepada pertumbuhan perdagangan sebesar 35 % dan menurunkan biaya ekonomi sebesar 16%.

Hal ini telah disadari oleh Pemerintah terbaru Indonesia yang merupakan Negara kepulauan melalui visi konektifitas transportasi laut “Pendulum Nusantara” dari Sabang sampai Merauke atau lebih dikenal program “Tol Laut”. Namun kondisi pelabuhan di Indonesia saat ini masih kurang kompetitif bagi pelaku bisnis, menurut laporan Standard Chartered (2011) kondisi pelabuhan laut dan udara di Indonesia tertinggal apabila dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN lainnya bahkan pada beberapa kasus sangat penuh sesak. Untuk pelabuhan laut sendiri mempunyai beberapa benchmark mengukur performansi produktivitas throughput dimulai dari ketersediaan area, peralatan, kinerja pelabuhan dan beberapa komponen pendukung lainnya. Dimana menurut Gordon Rankine (2003) komponen pengukur produktivitas pelabuhan petikemas dikategorikan kedalam dua kelompok yaitu ukuran terminal petikemas dan produktivitas terminal petikemas.

Dengan melihat kondisi arus petikemas pada gambar 1, setiap kawasan didunia menghadapi kondisi ketidakseimbangan arus petikemas yang masuk (impor) dan petikemas yang keluar (ekspor). Menurut studi dari DynaLiners (2010) besaran ketidakseimbangan jumlah petikemas pada tiap area pelayaran berbeda-beda, ketidakseimbangan untuk pelayaran far east-Mediterranean /Europe sebesar 53 %, transatlantic sebesar 40% dan transpacific sebesar 63%. Ketidakseimbangan ini merepresentasikan adanya sejumlah petikemas dalam keadaan kosong yang tetap diangkut dalam kapal, moda transportasi darat ataupun ditampung di pelabuhan. Di wilayah Eropa, jumlah total empty container terbesar ditemukan di Negara Spanyol yang merupakan Negara terbesar ketiga dalam penggunaan petikemasnya, sedangkan total persentase terbesar terhadap total petikemas untuk empty container adalah Inggris (Eurostat 2012 dalam Transport Research Institute, 2014). Menurut Drewry (2012) dalam Jason Monios (2014) menyatakan jumlah keseluruhan empty container yang dilayani diseluruh pelabuhan dunia adalah 122 juta TEU’s atau 20,6 % dari total penggunaan petikemas pada tahun 2011. Dipelabuhan Port of Rotterdam menangani 2,2 juta TEU’s empty container pada tahun tersebut (HCI). Dengan adanya empty container, kebutuhan area untuk menampung petikemas menjadi lebih besar. Permasalahan ini dihadapi oleh sebagian besar pelabuhan dunia, dimana telah mengganggu produktivitas pelabuhannya. Beberapa pelabuhan petikemas di Indonesia juga mengalami permasalah yang sama, Pelabuhan Pontianak mengalami permasalahan serius dalam menangani empty container yang berjumlah lebih dari 50% dari kapasitas total petikemasnya (Pelindo II, 2011).

Pontianak containerGambar 2. Kondisi Pelabuhan Petikemas Pontianak (IPC Pontianak)

Sebagai Negara dengan produktivitas serta inovasi yang tinggi dalam teknologi di bidang pelabuhan, Belanda seringkali menjadi pioneer untuk aplikasi teknologi terbaru di Pelabuhan petikemas seperti Automated Guide Vehicles dipelabuhan Rotterdam. Dengan rata-rata arus petikemas berkisar 11 juta petikemas tiap tahun, Port of Rotterdam mengaplikasikan teknologi ini guna meningkatkan produktivitas aliran petikemas selama 24 jam dari lapangan penumpukkan ke kapal dan sebaliknya, mengurangi pengeluaran untuk pegawai serta meningkatkan tingkat safety selama operasional. Disamping teknologi tersebut, terdapat satu terobosan baru untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pelabuhan petikemasnya yaitu foldable container. Inovasi ini merupakan temuan dari Delft University of Technology (TU Delft) pada tahun 2008 yang sudah dipatenkan pada 19 Maret 2009 (World Intellectual Property Organization, 2009). Salah satu inventor dari inovasi ini adalah Mahasiswa dari Indonesia yaitu Gunawan Kusuma dengan bimbingan dari Dr. Just Herder. Konsep ini dikembangkan dalam upaya mengoptimalkan area penumpukkan petikemas dengan cara melipat empty container seperti terlihat dalam gambar 3.

HCI-Foldable container

Gambar 3. Foldable Container (HCI, 2011)

Menurut Holland Container Innovations BV (HCI, 2011) beberapa keuntungan dari foldable container adalah mengoptimasi area penyimpanan sampai dengan 75% dan meminimalisir waktu handling, transportation, etc sebesar 25%; dimana semua optimasi ini menghasilkan pengurangan biaya transportasi empty container sampai dengan 25%. Manfaat dari kondisi ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan penyewaan petikemas (shipping company) tetapi juga pelabuhan petikemas. Sebagian besar pelabuhan berupaya untuk meminimalisir jumlah empty container, dikarenakan tarif sewa area untuk petikemas ini nilainya lebih kecil dari petikemas isi. Tumpukkan empty container juga mempunyai potensi bahaya (hazard), pada tahun 2013 terjadi keruntuhan empty container dipelabuhan Tanjung Priok yang menimpa truk trailer (Indonesiaxpost.com, 2013).

Keruntuhan Petikemas Tj Priok

Gambar 4. Keruntuhan Empty Container di Pelabuhan Tanjung Priok (Indonesiaxpost.com, 2013)

Sebagai salah satu Negara yang termasuk dalam 16 negara dengan perekonomian besar serta nilai potensi market US$ 0.5 trillion (Mc.Kinsey, 2012) dan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 % pada tahun 2014 (World Bank, 2014), Indonesia mesti menata segala faktor pendukung perkembangan ekonomi, salah satunya adalah pelabuhan petikemas. Perbaikan pelayanan pelabuhan petikemas akan mampu mendorong ekonomi nasional dan meningkatkan competitiveness index dalam tingkatan global. Hal ini akan menarik banyak investasi serta menurukan biaya ekonomi nasional. Berbagai inovasi mesti mulai dikaji dan diaplikasikan, sehingga perbaikan dan perubahan akan lebih cepat dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Dengan potensi sumber daya alam dan manusia yang berkualitas, Indonesia seharusnya mampu menjadi salah satu pemain kuat perekonomian dunia dan mampu memimpin Negara lain yang tidak mempunyai potensi sumber daya alam seperti Singapura.

 

Referensi :

  1. http://en.wikipedia.org/wiki/Containerization
  2. http://www.economicshelp.org
  3. http://www.worldshipping.org
  4. Richard A Butcher (2010), “Invicta Management Services Ltd : Capital Lease Back Programme”.
  5. http://www.marinedelivers.com/
  6. Marin Marinov, dkk (2012), “Movimento de mercadorias por ferrovias em zonas urbanas e suburbanas”, Journal of Transport Literature.
  7. http://www.tilgroup.com
  8. MAERSK, “ A Leading trade Nation : The role of container shipping and logistic in enhancing trade and economic growth in China”.
  9. Standard Chartered (2011), “ Special Report : Indonesia-Infrastructure bottleneck”.
  10. Gordon Rankine (2003), “ Benchmarking Container Terminal Performance “, Container Port Conference, Rotterdam.
  11. DynaLiners Trades Review, Dynamar, Noorderkade, 2010.
  12. Transport Research Institute (2014), “Empty Container Repositioning for Scottish Shippers”, Edinburgh Napier University.
  13. Jason Monios and Yuhong Wang (2014),”Regional Stakeholder Solutions to Empty Container Repositioning Cost in Peripheral Regions”, Transport Research Institute of Edinburgh Napier University.
  14. Pelindo 2 (2011), “ Siaran Pers : Pemberlakuan Tarif Progresif Bukan untuk Tambahan Pemasukan, namun untuk efisiensi”.
  15. World Intellectual Property Organization
  16. http://www.hcinnovations.nl/
  17. http://indonesiaxpost.com
  18. McKinsey Global Institute (2012), “The archipelago economy: Unleashing Indonesia’s potential”.
  19. http://www.worldbank.org/
  20. http://www.tudelft.nl/

Entry filed under: Ilmu. Tags: , , , , , , .

KERETA BERTEKNOLOGI MODERN UNTUK INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 62,385 hits

News

Antara

Aljazeera

CNN

BBC

REUTERS

FOX

ABC

KYODO

NIKKEI


%d bloggers like this: