Lylipad Kota Terapung Masa Depan

November 23, 2009 at 7:05 am 3 comments

Adalah Vincent Callebaut, seorang arsitek dari Perancis yang menawarkan konsep floating ecopolis yang bernama Lylipad untuk menjadi konsep kota masa depan dengan kemampuan menampung 50.000 manusia. Keunikan Lylipad tidak hanya terlihat dari desainnya yang futuristik tetapi juga pada kemampuannya untuk mampu memanfaatkan energi terbaharukan dari lingkungan disekitanya seperti panas matahari, angin, gelombang, pasang surut dan lain-lain.

Konsep amfibi dengan setengah dari bagain kota merupakan kawasan daratan atau tempat tinggal dan sebagian lagi merupakan lagoon buatan, dimana lagoon tersebut berfungsi sebagai penyeimbang untuk menjadikannya stabil. Lylipad ini direncanakan mampu untuk memproses air hujan yang terkumpul dari 500.000 meter persegi luas permukaannya menjadi air minum.

Seperti yang terlihat terdapat 3 buah bentuk menyerupai pegunungan dan 3 bagian pangkalan perahu dimana berbagai kegiatan dapat dilakukan didalamnya oleh semua golongan umur baik berupa bekerja, belanja, hiburan dan terdapat public space untuk bersosialisasi.

Harmonisasi kehidupan antara manusia dengan alam menjadi perhatian utama di floating ecopolis ini, segala kebutuhan dari makanan diperoleh dari pemanfaatan flora dan fauna yang mendapat tempat tersendiri didalamnya. Untuk sebagian besar permukaan kota akan dilapisi dengan berbagai tumbuhan hidup yang ditata menjadi taman bergantung tidak terkecuali sarana penghubung yang akan menjadi tempat tumbuhnya tanaman hijau tersebut.

Guna menyempurnakan tantangan konsep climate, biodiversity, water & health, Lylipad dibuat dari titanium dioxide (TiO2) yang ditutupi polyester fibres dimana ketika bereaksi dengan sinar ultraviolet akan menyerap polusi – polusi diatmosfir melalui proses photocatalytic, hingga menjadikannya mampu disebut sebagai sustainable city.

Lylipad ini dirancang tidak hanya mampu untuk digunakan pada wilayah-wilayah yang mempunyai wilayah lepas pantai yang sesuai seperti Monaco tetapi juga wilayah yang akan terendam akibat naiknya permukaan air laut seperti Maldives.

Prognosis terendamnya negara dengan daratan-daratan rendah semakin tidak terbantahkan sehingga pemanfaatan kota-kota terapung akan menjadi pilihan rasional saat kondisi tidak memungkinkan untuk membuat daratan baru yang membutuhkan jutaan kubik tanah dan kondisi kenaikan air laut yang terus ekspansif ke seluruh daratan. Ambisi ini sangatlah reliable sejalan dengan perkembangan teknologi yang saat ini telah membuktikannya, Jepang dengan floating oil storage di Shirashima dan Kamigoto sedangkan Amerika saat ini tengah meneliti membuat pangkalan militer terapung untuk ratusan pesawat dan kapal tempurnya yang disebutnya Mobile Offshore Base (MOB).

Sumber :

Vincent Callebaut

Entry filed under: Ilmu. Tags: , , .

Maldives-Negeri Sejuta Atol MOBILE OFFSHORE BASE (MOB):PANGKALAN MILITER MODERN

3 Comments Add your own

  • 1. yacob  |  March 30, 2010 at 7:28 am

    cool men !

    Reply
  • 2. Ery Wijaya  |  August 23, 2010 at 2:09 am

    Menarik sekali konsepnya, tapi cocok gak ya untuk tempat kita yang sering terancam bahaya tsunami?

    Reply
  • 3. Kukuh Thoriq Ariefian  |  August 23, 2010 at 2:17 am

    Itu dia Pak Ery, perlu pembuktian lebih lanjut. Akan tetapi kalau kota terapung ini diinstalasi di wilayah laut dalam dimana pengaruh tsunami yang dirasakan kecil maka cukup feasible akan tetapi untuk wilayah pantai dengan pengaruh tsunami besar maka akan cukup berpengaruh, maka perlu adanya penghalang.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Blog Stats

  • 62,385 hits

News

Antara

Aljazeera

CNN

BBC

REUTERS

FOX

ABC

KYODO

NIKKEI


%d bloggers like this: